2 hari lagi tapi masih bingung nih.....

Gak kerasa pemilu tinggal 2hari lagi tapi kenapa saya belum punya kemantapan mau milih sapa dan partai apa ya???terlalu banyak daftar caleg yang kesemuanya ga da yg mengesankan dihati karena saya cuma liat mereka di pingir-pingir jalan nampang dibawah pohon hehehe...itu pun ga ada yang wajahnya foto genik jadi males mandangnya.

Cuma sejak kemaren pas balik kantor liat kalo satpol PP dah mulai menurunkan poster-poster calon pejuang bangsa, sekarnag jalanan dah bersih dan pohon-pohon pun dah bisa bernafas lega karena beban berat yang terpaku dibatangnya dah dilepas...


Mesti penentuan para pemimpin bangsa udah tinggal 2hari tapi kayanya koq ga banyak orang yang antusias untuk ikut aktif memperjuangkan nasib bangsa ya...tapi ga tau juga kalo diluar sana mungkin para simpatisan dari para caleg sudah pasang strategi gimana caranya bisa dapet suara terbanyak dan bisa menduduki kursi panas di DPR dan DPRD sana.

Apapun alasan mereka berlomba-lomba meraih kursi itu yang jelas saya hargai jerih payah dan usahanya untuk mempertaruhkan harta, waktu dan tenaga demi terciptanya kehidupan bangsa Indonesia tercinta ini.
Siapapun yang bakal jadi wakil suara rakyat semoga bisa memperjuangkannya dengan niat tulus ikhlas untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Jangan ikut-ikutan seniornya latihan korupsi ato menyalahgunakan kekuasaan untuk berbuat anmoral dan lain sebagainya. Mereka harus jalankan apa yang sudah mereka janjikan pada rakyat karena meskipun rakyat ga mencatat apa yang dah diomongkan tapi Tuhan tidak tuli.

Ok deh...buat temen-temen semua selamat menyiapkan diri untuk menCONTRENG wakil yang kita percaya bisa membawa inspirasi bagi Bangsa dan Negara Indonesia tercinta. dan saya mau milih-milih dulu sapa ya yang harus saya beri amanat besar ini.

Selengkapnya...

7 Kunci menuju pernikahan

Ternyata ngambil keputusan untuk menikah tu gampang-gampang susah ya. Ga semudah ketika kita mutusin untuk 'jadian'. Semua-mua jadi kelihatan menakutkan, bingung harus gimana nantinya setelah menikah, wah ternyata ribet juga ya...mungkin ini ga berlaku untuk semua orang tapi kebanyakan pasti ngalami kebingungan yang teramat sangat ketika tiba waktunya untuk menentukan jalan hidup yang harus dijalani selanjutnya karena waktu terus berjalan maju jadi mau ga mau ya harus dihadapi.

Na..disini saya pingin share dikit tips yang pernah saya baca diblog temen mengenai gimana dan apa saja yang harus disepakati sebelum akhirnya kita mutusin untuk menjalani sisa hidup kita bersama pasangan yang udah menjadi pilihan kita.

Beberapa kunci yang harus dibicarakan dengan pasangan kita adalah:
1. Siapa bendaharanya?
Yang penting adalah transparansi antara Anda dan pasangan. Kedua belah pihak sama-sama tahu penghasilan masing-masing, dan yang terpenting, bagaimana memaksimalkan dan mengatur uang tersebut.
“Siapa yang memegang uang, bukan hal utama. Fleksibel saja. Apalagi sekarang ada joint account atau tabungan bersama di mana suami-istri bisa sama-sama memantau,” ujar Johanes.

Jika keuangan dipegang istri, apakah suami harus menyerahkan semua gajinya? Menurut Johanes, konsep ini tidak selalu tepat, karena ada istri yang tak bisa me-manage uang. Selain itu, jika Anda tinggal di kota besar seperti Jakarta, konsep suami menyerahkan 100% gaji pada istri juga “merepotkan”. Sebab, suami yang mobile atau bekerja, akan membutuhkan uang, semisal untuk beli bensin. Jika semua diserahkan ke istri dan tiap hari minta ke istri, repot.
Sebelum menyerahkan gaji ke istri, suami sebaiknya menentukan berapa anggaran per bulan, misalnya kebutuhan bensin dan hiburan (seperti beli buku untuk dirinya sendiri). Yang perlu diserahkan adalah yang menyangkut kebutuhan bersama.

Jadi, harus pintar-pintar mengatur supaya satu sama lain tidak begitu tergantung. Sangat perlu bikin anggaran keuangan bulanan yang jelas, mulai dari biaya listrik, telepon, air, makan, pendidikan anak, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan hal lain yang tak terduga.

2. Tinggal di mana?
Tak jarang, lantaran belum punya tempat tinggal sendiri, pasangan suami-istri masih tinggal di rumah orangtua atau mertua. Selain itu, dalam kultur masyarakat Indonesia, kadang orangtua tak ingin anaknya meninggalkan rumah. Jadi, lebih enak tinggal di rumah sendiri atau mertua?

Menurut Johanes, idealnya dalam satu rumah ada satu keluarga dengan satu kepala keluarga. Jika satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga, sudah tidak sehat. Jika tinggal di rumah sendiri, Anda dan pasangan punya kemandirian untuk mengatur rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, tata letak rumah, hingga kondisi rumah. Anda juga memiliki kebebasan secara individual.

Sebaliknya, berikut hal-hal yang mungkin terjadi jika tinggal dengan mertua :
- Tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan “eksperimen” sendiri, seperti mengatur rumah karena harus tergantung pada si empunya rumah, yaitu mertua.
- Perlu penyesuaian. Jika belum begitu lama mengenal mertua, proses penyesuaian mungkin akan terbentur ke sana kemari dan bisa jadi akan menimbulkan gesekan antara Anda dengan pasangan atau Anda dengan mertua.
- Perlu membatasi dan menguasai diri untuk bisa cocok dengan mertua.
- Dalam segi keuangan, biasanya jika anak masih bekerja sedangkan orangtua tidak, anak lebih banyak mendukung orang tua. Begitu juga sebaliknya. Jika orangtuanya sangat mapan dan anaknya belum, orangtua yang lebih men-support anak.

Untuk keuangan, suami-istri bisa sepakat berbagi dengan orangtua atau mertua. Semisal disepakati masalah kebutuhan dapur ditangani orangtua, sementara Anda dan pasangan menangani listrik dan telepon. “Jadi, perlu ada garis jelas mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang harus ditangani anak dan mana orangtua. Jangan sampai berkesan, anak menguasai orangtua dan sebaliknya,” jelas Johanes.

3. Berani berkata “tidak”
Dalam kultur Indonesia, campur tangan orangtua dalam kehidupan rumah tangga anak masih tinggi. Sejauh mana peran orangtua terhadap pasangan Anda, harus dikenali dalam masa pacaran.

Jangan sampai, setelah menikah pasangan tak bisa lepas dari orangtua, dalam arti “anak mami” atau “anak papi”. Contohnya, beli mobil saja pasangan harus bertanya ke orangtua, sedangkan Anda malah tak dimintai pendapat.

Pasangan akan merasa tak dihargai. Padahal, dalam pernikahan, pasangan adalah orang yang dimintai saran, bukan orang lain. Banyak pasangan terjebak dalam hal ini.”
Agar tidak terjadi, sebisa mungkin tidak sedikit-sedikit lari ke orangtua. Tanpa bermaksud menyakiti hati orangtua, berusaha dan berani mengambil keputusan sendiri. Jika selalu tergantung pada orangtua, lama-kelamaan kita tidak punya identitas diri. Jadi, pelan-pelan harus berani berkata “tidak” untuk sesuatu yang kita yakini benar. Dan harus bersama pasangan, jangan hanya satu pihak.

4. Batasi “hobi”
Anda suka nongkrong bareng teman sepulang kantor? Nah, setelah menikah, sebaiknya batasi frekuensi acara nongkrong bareng teman. Intinya, hindari melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendukung kehidupan suami-istri.

5. Alokasi keuangan
Beli mobil atau furnitur? Keputusan membeli mobil, misalnya, untuk suami-istri yang kondisi keuangannya pas-pasan, harus dibicarakan benar-benar. Jangan sampai salah satu pihak nantinya tidak puas. Intinya, modal atau harta yang merupakan hasil kerja bersama, harus disepakati bersama. Hal ini juga berlaku untuk harta yang merupakan hasil keringat sebelum menikah.

6. Punya anak atau tidak?
Hal ini mesti dibahas sebelum menikah. Jangan sampai setelah menikah Anda ingin punya anak, sedangkan pasangan Anda tidak. Jika memang ingin punya anak, sebaiknya pasangan suami-istri melakukan tes kesehatan pranikah.

7. Istri bekerja atau jadi ibu rumah tangga?
Hal ini berhubungan dengan kondisi ekonomi. Jika sebelum menikah Anda dan pasangan sudah bekerja dan setelah menikah suami tetap menginginkan Anda bekerja, Anda perlu pintar membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga. Apalagi jika kelak punya anak. Kendati demikian, mengurus rumah tangga dan anak tidak dibebankan 100 persen pada istri. Idealnya, rumah tangga dan anak bisa dikerjakan berdua.

Semoga ini bisa jadi masukan buat siapa aja yang bingung nyiapin hati dan pikiran menuju kehidupan yang baru....

Selengkapnya...

Agar Karier & Keluarga berjalan seimbang


Hari ini dikantor ga banyak kerjaan yang harus saya selesaikan ga seperti hari-hari kemaren, jadi bisa nyantai Facebookan, Chat ma tmn2 dan baca-baca buat nambah ilmu. Dan ilmu yang saya dapat hari ini pingin saya share sapa tau bermanfaat.

Sekarang ini wanita sudah banyak yang aktif bekerja di segala bidang, sebagai wujud aktualisasi diri yang memang mempunyai potensi khusus, selain itu alasan bisa menambah penghasilan buat keluarga yang sekarang ini segala macam kebutuhan mahal.

Tapi sekarang ini banyak ditemukan, seorang wanita yang bekerja kadang sedikit mengesampingkan urusan rumah tangga. Totalitas mereka tercurah ditempat kerja saja setelah pulang ke rumah dah tinggal sisa-sisa kecapekan akhirnya untuk ngurus rumah jadi males deh. Meskipun saya belum berkeluarga, kadang juga merasakan hal itu, kalo dah capek di kantor begitu sampai di rumah dah males ngerjain kerjaan rumah. Ternyata hal ini patut diwaspadai, karena menurut sumber yang saya baca, ini bisa mengakibatkan hubungan keluarga jadi kurang romantis bahkan menyebabkan pecahnya maghligai rumah tangga. Duh jangan sampai deh...karena betapapun tingginya kedudukan kita di kantor, di rumah tetep suami yang jadi kelapa rumah tangga dan kita harus senantiasa menjaga keharmonisan.

Dan salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelanggengan keluarga-bagi yang berkeluarga- harus ada kesepakatan awal dengan pasangan bila kita memutuskan untuk aktif bekerja. kalo memang pasangan setuju dengan pilihan kita, boleh kita bekerja tapi kalo tidak yang ga perlu marah-marah dengan pasangan karena gimanapun kita sudah tidak berjalan sendiri dan mungkin pasangan kita punya alasan yang kuat kenapa kita kita tidak diperbolehkan untuk bekerja.

Lain halnya dengan mereka yang sudah bekerja semenjak belum menikah, itu pasangan harus memaklumi, kalo memang posisi dan potensi dari wania itu bagus ga da salahnya meneruskan untuk tetap berkarier tapi tetap memberikan rambu-rambu, agar bisa membagi waktu dengan keluarga.

Dan kunci untuk menjaga keharmonisan adalah dengan tetap menjaga komunikasi, sesibuk apapun kita sebisa mungkin meluangkan waktu untuk bertelepon/SMS meski sekedar mengingatkan pasangan untuk makan, solat atau apa saja karena sekecil apapun perhatian kita pada pasangan/keluarga sangat besar artinya untuk indahnya keluarga.

Semoga saya termasuk wanita yang bisa membagi waktu untuk keluargaku kelak meskipun harus bekerja dan semoga calon suamiku bisa ngertiin....

Selengkapnya...

Lagu-lagu baru

Agnes - Teruskanlah

Rio Febrian - Aku Bertahan

Rido Rhoma - Menunggu

Rio Febrian - Palsu

Derby - Tuhan Tolong

Derby - Biarkan AKu Pergi

Gruvi - Ku Masih Mencintaimu

Selengkapnya...

Jalan-jalan ke Laut


Ni hasil narsis-narsisanku di laut Celong-Batang. bareng Dephi, Genduk, Kruchil dan adikku. Kami berlima berangkat dari rumah sekitar jam 7 pagi dengan motor matic kami masing2....
melewati hutan karet yang ternyata sekarang dah banyak yg direboisasi jadi ga begitu rindang. Tapi dengan semangat 45 kami melewatinya dengan senang hati dan sesampai disana langsung deh pose....



Subhanallah betapa indahnya ciptaan Allah yg Maha Luas ini...semilir angin pagi hari menambah kedamaian hati, mesti sedikit terasa hangatnya pancaran sang surya semua begitu indah.

Selengkapnya...